Minggu, 24 Juni 2012

FF/Try My Love/Part2

Cast : Yamashita Ayako - Park Yoochun.
author : Astrid a.k.a achiid

***
Hari mulai gelap. Kami bingung menentukan tempat mana yang akan kami datangi lagi.

"Ah Ayako-chan. Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi saat malam hari."

"Hah? Tempat apa itu?"

"Tokyo tower. Katanya saat malam hari, dari sana kita bisa melihat kota tokyo dengan lampu-lampu yang sangat indah."

"Hmm baiklah. Kalau begitu kita kesana saja. Dekat kok dari sini."

Kami pun pergi menuju Tokyo tower. Kami naik ke atas menggunakan lift. Beberapa menit kemudian kami sampai di puncak Tokyo Tower. Dari sini kota Tokyo terlihat sangat indah dengan lampu-lampu berwarna-warni yang menghiasi kota itu.

"Wuaaaah. Ternyata benar-benar indah." seru Yoochun memandang kagum.

"Pastinya. Pemerintah Jepang membangun semua ini dengan kerja keras mereka."

"Aku tahu itu. Kalau tidak, mana mungkin bisa seperti ini. Ya kan?"

"Iya." jawabku singkat.

Yoochun memandang keseluruh penjuru kota Tokyo dari atas Tokyo Tower ini. Dia kelihatan benar-benar takjub dengan pemandangan yang ada di depan matanya.

Ah... Aku memandanginya lagi. Dia benar-benar sangat tampan. Dia juga sangat baik. Tipe pria romantis. Kurasa aku menyukainya.

"Hayoo. Kau memandangiku lagi kan?" seru Yoochun membuatku kaget lagi.

"Ah kau. Ge-er mu itu kumat lagi ya? Aku tidak memandangimu tahu. Weee." jawabku sambil menjulurkan lidah.

"Huh payah. Tetap saja tak mau jujur." ucap Yoochun cemberut.

Aku hanya tersenyum melihat kelakuan Yoochun itu.

"Sudah yuk turun. Sudah malam, aku harus pulang." ucapku.

"Ah ya.. Sudah malam. Fhuuuh. Tak terasa ya kita sudah jalan seharian."

Kami pun turun dari puncak Tokyo Tower. Tidak langsung pulang, kami duduk dibangku taman dan mengobrol sebentar lagi.

"Ayako-chan... Terimakasih untuk seharian ini. Aku benar-benar sangat senang bisa bertemu denganmu, mengenalmu dan berjalan seharian denganmu. Terimakasih karena sudah mau menemaniku. Arigatou gozaimasu." ucap Yoochun.

"Sama-sama. Aku juga senang." ucapku tersenyum pada Yoochun.

Yoochun ikut tersenyum tapi setelah itu dia memasang tampang serius. "Ada yang mau aku katakan padamu."

"Apa?" tanyaku.

"Eummm. Aku... Kau... Sejak pertama aku melihatmu distasiun tadi, aku yakin benar kalau kau gadis yang baik. Makanya aku mengikutimu. Kau benar-benar menarik perhatianku Ayako."

"Hah? Apa? Aku tak mengerti."

"Suki... Aku... Aku menyukaimu Ayako-chan." ucap Yoochun pelan-pelan.

"A... Apa? Apa maksudmu?"

"Aku me-nyu-ka-i-mu." ucap Yoochun lagi dengan menekankan setiap suku kata pada ucapannya.

"Kenapa?" tanyaku bingung dan agak kaget.

"Entah... Tapi kau tak perlu menjawabnya sekarang. Aku ingin kau tau suatu hal, tapi tak sekarang."

"Apa maksudmu?"

"Nanti kau akan tahu sendiri. Minggu depan, dihari yang sama seperti sekarang, pukul 7 malam, aku akan menunggu jawabanmu dipuncak Tokyo Tower itu. Aku akan menunggu sampai kau datang."

***
Dikelas, pagi hari...
Seminggu setelah pertemuanku dengan Yoochun. Aku terus memikirkan apa maksud Yoochun waktu itu. Dia bilang, malam ini dia menungguku di puncak Tokyo Tower setelah aku tahu suatu hal. Tapi hal apa itu? Sampai sekarang aku belum mengetahuinya.

"Hey Ayako! Melamun saja kau ini." tegur Keiko yang baru datang. Dia pun duduk dibangku sampingku.

"Kau ini mengagetkanku saja. Tumben kau baru datang Keiko-chan?" tanyaku.

"Iya nih. Tadi aku mampir ke toko buku dulu membeli majalah. Karena kalau aku beli nanti siang pasti aku kehabisan."

Aku mengernyitkan dahiku lagi. Ada-ada saja si Keiko. "Majalah apa sih? Segitunya."

Keiko mengeluarkan sebuah majalah dari dalam tasnya. Dia menunjukkan padaku majalah yang dia beli.

Dan apa yang aku lihat pada cover majalah itu...?

Aku menutup mulutku dengan tangan, tak percaya. "I... Ini... Ini... Yoochun?" ucapku gagap sambil menunjuk gambar Yoochun-san.

"Wah. Kau tahu Yoochun, Ayako? Tumben sekali. Ternyata diam-diam kau mengidolakannya juga ya?"

Aku menggeleng tak percaya. Jadi Yoochun... Dia adalah... Salah satu member Tohoshinki? Tohoshinki yang saat ini menjadi idola masyarakat Jepang? Tohoshinki idolanya Keiko-chan dan teman-teman yang lain?

Jadi inikah hal yang Yoochun ingin aku tahu? Pantas saja saat aku pergi dengannya, semua orang terus memperhatikan kami. Kenapa aku tidak menyadarinya? Kepalaku tiba-tiba sakit.

***
Pukul 8 malam...
Ini sudah lewat 1 jam dari waktu yang aku janjikan untuk bertemu Yoochun. Tapi aku malah masih dirumah. Memandang langit, yang malam ini penuh dengan bintang.

"Yoochun-chan... Kau masih disanakah? Atau kau sudah pergi? Atau malah kau tak datang. Aku bingung harus bagaimana."

Aku membolak-balik halaman majalah yang sama seperti punya Keiko yang baru aku beli tadi sore.

"Kau benar-benar sangat tampan Yoochun-chan. Tapi... dengan melihatmu yang seperti ini, aku jadi sadar, kalau kita berbeda. Sangat berbeda."

Aku terus membolak-balik halaman majalah yang penuh membahas soal Tohoshinki. Sampai mataku melihat suatu kolom yang berisi tanya jawab seputar gadis idaman member.

Aku langsung melihat ke jawaban Yoochun-chan. Disana tertulis :

Q: Bagaimana tipe wanita idamanmu?
A: Gadis polos dengan rambut hitam panjang.
........
Q: Apa yang membuatmu jatuh cinta pada seorang gadis?
A: Keluguannya. Senyumannya.
Q: Apa kau sudah menemukan gadis itu?
A: Sepertinya sudah. Belakangan ini kami berjanji untuk bertemu disuatu tempat. ^^
Q: Apa dia gadis Jepang atau Korea?
A: Rahasia. (tertawa)
........
Q: Suatu hal yang ingin kau sampaikan?
A: Untuk orang yang kumaksud, aku akan menunggu sampai kau datang. Untuk semua penggemar Tohoshinki, tetap dukung kami ya! Arigatou.

Aku terkejut membaca kolom itu. Benarkah Yoochun akan menungguku? Aku melirik jam dinding dikamarku. Sudah jam setengah 9 malam. Aku bangkit, bersiap sejadinya kemudian aku berlari ke halte bis. Aku menunggu bis datang untuk menuju Tokyo Tower.

"Yoochun-chan... Semoga kau masih disana."

***
Aku berlari kedalam lift yang akan menuju puncak Tokyo Tower. Sekarang sudah pukul setengah 10 malam. Aku sangat berharap Yoochun masih ada disana.

Ting. Pintu lift terbuka dan aku sudah sampai dipuncak Tokyo Tower. Aku mencari-cari Yoochun-chan ditengah kerumunan orang. Tokyo Tower mulai sepi, tapi aku tak juga menemukannya. Aku hampir putus asa. Air mataku mulai berjatuhan pelan-pelan.

"Yoochun... Apa kau sudah pergi?" ucapku lirih.

"Akhirnya kau datang juga Ayako-chan. Kukira kau tak akan datang." Yoochun muncul dari arah belakangku. Senyum itu, aku sangat merindukan senyum itu.

Aku tak dapat lagi menahan rasa yang berkecamuk dalam hatiku. Aku berlari menghambur kearah Yoochun-chan. Aku memeluknya erat, sangat erat. Yoochun pun memelukku dengan erat.

"Aku... Aku kira kau sudah pergi Yoochun-chan."

"Aku kan sudah bilang akan menunggumu sampai kau datang."

"Tapi aku kira kau tak serius. Sampai..." aku menghentikan ucapanku.

Yoochun melepaskan pelukannya dan menatapku erat.

"Sampai apa?" tanyanya lembut.

"Sampai... Sampai aku membaca artikel tentangmu di sebuah majalah." ucapku malu.

"Jadi?"

"Jadi apa?"

"Jadi bagaimana tanggapan dan jawabanmu?" tanya Yoochun langsung.

Aku terdiam beberapa saat. Kemudian aku menatap kedalam mata Yoochun. Aku melihat ketulusan terpancar dari sorot matanya.

"Aku... Aku suka dengan jawabanmu dimajalah itu."

"Hanya suka jawabanku?"

Yoochun-chan sepertinya sengaja membuatku salah tingkah.

"A... Ak... Aku... Menyukaimu." ucapku sangat pelan.

"Apa? Aku tak dengar..."

Aku menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi. Aku mengumpulkan semua keberanianku untuk jujur kepada Yoochun-chan.

"Aku juga menyukaimu!" akhirnya aku mengatakannya. Aku mengatakan hal itu tanpa berani menatap Yoochun. Aku menunduk malu.

"Hmmm... Kau siap menerima semua resiko jika bersamaku Ayako? Kau tak apa kalau kita jarang bertemu? Kau siap menjalani hubungan jarak jauh?"

Yoochun melemparkan banyak pertanyaan padaku, tapi aku hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan mantap.

Yoochun langsung menarik tubuhku kedalam pelukannya. Dia memelukku erat dan menciumi keningku.

"Gumawo Ayako-chan."

Lagi-lagi dia berbicara menggunakan bahasa lain. "Apa kau bilang?"

Aku mendengar tawa kecil Yoochun.

"Sepertinya mulai sekarang kau harus belajar bahasa Korea."

"Aaah. Sepertinya memang harus begitu. Aku akan berusaha." ucapku sambil tersenyum.

"Arigatou Ayako. Aku janji akan menjagamu."

"Ya. Aku percaya padamu Park Yoochun."

Malam yang sangat indah dan langit yang penuh bintang menjadi saksi hubungan kami ini. Semoga aku dan Yoochun bisa bersama selamanya...




*The End*

FF/Try My Love/Part1

Cast : Yamashita Ayako - Park Yoochun.
Author : Astrid a.k.a achiid

***
Tokyo, Jepang.
Namaku Yamashita Ayako dan saat ini aku tengah berkuliah di universitas T. Aku mengambil jurusan Seni. Aku suka melukis, jadi aku ingin mengembangkan hobiku disini.

Usai pelajaran, aku dan teman-teman perempuanku berkumpul dipojok kelas duduk membentuk lingkaran.

"Hey kalian tahu tidak? Tohoshinki katanya mau mengadakan konser di Tokyo dome lho." ucap salah satu temanku.

"Ah ya! Aku juga baru melihat dihomepage mereka. Aku tak sabar ingin menontonnya!" ucap yang lain.

Entah kenapa akhir-akhir ini mereka selalu berbicara mengenai Tohoshinki -sebuah kelompok boyband yang berasal dari Korea-. Virus Tohoshinki sedang melanda teman-temanku rupanya.

"Eh Ayako. Kau suka Tohoshinki juga tidak?"

Aku tersenyum kemudian menggeleng. "Aku saja baru tahu ada boyband itu."

"Ah kau ini payah sekali. Kau harus melihat dan mendengar lagu mereka. Aku yakin kau pasti langsung jatuh cinta." Keiko teman dekatku gantian bicara.

"Masa sih? Tapi kalian kan tahu aku kurang tertarik dengan hal-hal seperti itu." jawabku sambil tersenyum kecil.

"Ah Ayako kan memang hanya tertarik dengan lukisan."

Aku tertawa kecil. "Memaaaang. Itu kalian tahu. Eh, aku pulang duluan ya. Aku harus membeli bahan untuk tugas minggu ini. Dah."

Aku pamit kemudian pergi meninggalkan mereka. Aku pergi kesebuah toko alat tulis dekat stasiun. Toko ini adalah langgananku. Aku masuk lalu memilih barang-barang yang aku butuhkan.

"Hmm... Kurasa ini cukup." ucapku pada diriku sendiri. Aku berjalan kekasir. Saat itu toko itu sedang memutar sebuah lagu yang menurutku sangat enak didengar. Dari segi musik dan suara sangat seimbang.

Aku meletakkan barang-barang yang aku ingin beli dimeja kasir.

"Ini saja Ayako?" tanya paman pemilik toko. Paman itu sudah mengenalku.

Aku tersenyum. "Iya paman. Paman, lagu yang sedang diputar ini lagu siapa?"

"Masa kau tak tahu? Ini kan lagu dari boyband yang sedang terkenal disini Ayako. Togoshimki kalau tidak salah namanya."

"Hah? Tohoshinki maksudnya?"

"Ah ya! Itu kau tahu. Ini barangmu. Semuanya 2000 yen."

Aku mengambil kantung plastik yang berisi barang yang aku beli kemudian aku menyerahkan 2 lembar uang 1000 yen pada paman itu.

"Arigatou gozaimasu paman."

"Ya. Datang lagi ya Ayako."

Aku tersenyum lagi pada paman itu, mengangguk kemudian pamit pergi.

***
Pagi hari, stasiun kereta.
Aku menunggu kereta untuk pergi ke kampusku. Aku duduk ditempat duduk yang disediakan disana. Sepertinya keretaku telat.

"Lama sekali sih. Kalau begini caranya aku bisa terlambat. Huh!" umpatku.

Aku melihat ke laki-laki yang duduk disampingku. Sepertinya dia sedang tidur. Wajahnya tertutup sebagian oleh topi yang dikenakannya. Kupingnya terpasang headset yang tersambung dari ipod dikantung sweaternya.

"Kenapa menatapku?" tanya laki-laki itu tiba-tiba yang membuatku kaget dan salah tingkah.

"Ah... Ah tidak... Siapa yang menatapmu? Aku tidak..." ucapku gugup.

"Tadi kau memandangi aku saat aku tidur kan? Aku tahu itu kok."

Kali ini laki-laki itu tersenyum jahil padaku.

"Malas. Kau ge-er sekali sih. Aku tidak memandangimu atau menatapmu. Jangan ge-er!"

"Ah... Dasar wanita. Tidak pernah mau jujur."

Laki-laki itu membuatku kesal karena kepedeannya. Keretaku akhirnya datang. Aku bangkit dari dudukku, masuk kedalam kereta kemudian duduk dekat pintu.

Aku melihat laki-laki tadi juga masuk kedalam kereta yang sama denganku. Bahasa Jepang laki-laki tadi terdengar kaku. Kurasa dia bukan orang Jepang asli.

Setengah jam kemudian aku sampai ditempat tujuan. Aku turun dan berjalan menuju halte bis dekat stasiun. Tapi... Aku merasa sedang diikuti. Aku melihat kebelakang, tampaknya tak ada yang mencurigakan. Aku berjalan lagi, pelan. Kemudian melihat lagi kebelakang dan apa yang kulihat. Laki-laki tadi mengikutiku.

"Heh! Kau mau apa? Kenapa mengikutiku?! Awas ya kalau kau macam-macam!" seruku padanya.

Laki-laki itu tersenyum kemudian menghampiriku. Sekitar jarak satu meter kami bertatapan muka dan saat itu aku baru bisa melihat wajahnya yang sedaritadi tertutup topinya. Ternyata dia sangat tampan. Kulitnya putih bersih. Rambutnya agak gondrong dan berwarna kecokelatan.

"Sepertinya kau tak kenal aku?" ucap laki-laki itu.

Aku bingung mendengar ucapannya. "Tentu saja! Aku baru melihatmu tadi, bagaimana aku bisa mengenalmu? Pria aneh."

"Kalau begitu kita kenalan dulu bagaimana? Namaku Park Yoochun. Kau siapa?" Laki-laki itu mengulurkan tangannya padaku tapi aku hiraukan sampai akhirnya dia menurunkannya lagi.

"Ah mungkin kau takut ya? Baiklah-baiklah. Sebelumnya aku minta maaf karena mengikutimu diam-diam. Habis aku bingung, aku tak tahu jalan disini."

"Kau bukan orang Jepang?"

"Ya... Aku dari Korea dan sekarang sedang liburan disini. Bisakah kau menolongku?"

Aku sedikit iba pada Yoochun. Ternyata dia memang bukan orang Jepang dan dia tak tahu jalan disini.

"Tolong apa?"

"Sebenarnya aku liburan sendirian disini, aku tak tahu jalan dan tempat-tempat bagus disini. Bisa kau menjadi guide ku? Hanya satu hari."

Aku mengernyitkan dahiku. "Menjadi guide? Tapi aku harus kuliah."

Yoochun berpikir sebentar kemudian dia menatapku dengan muka memelasnya.

"Tak bisakah kau libur sehari ini? Aku bingung harus pergi dengan siapa. Aku tak punya teman disini."

Daaaaan... Setelah berpikir cukup lama, akupun luluh pada permintaan Yoochun. Sepertinya dia memang orang baik jadi tak ada salahnya aku menolongnya kan.

"Memang kau mau kemana?" tanyaku.

"Aku kan tak tahu. Aku nurut kau saja. Hey, kau belum memberitahu namamu."

"Ah ya... Namaku Ayako."

"Hmmm-umm. Ayako-chan. Tolong tunjukkan padaku tempat-tempat bagus diTokyo yaaa." ucap Yoochun sambil tersenyum lebar.

***
Tempat tujuan pertama kami adalah Ueno Zoo. Yoochun membeli 2 tiket masuk seharga 6000 yen.

Kami berkeliling kebun binatang ini. Melihat berbagai macam jenis binatang yang ada disana.

"Ternyata tak kalah dengan kebun binatang yang ada di Korea." ucap Yoochun setelah berkeliling.

Kami duduk dibangku panjang yang disediakan oleh tempat itu untuk pengunjung beristirahat sambil makan ice cream.

"Tentu saja. Malah lebih bagus disini kan?" ucapku.

"Eummm. Tidak juga. Hehe. Setelah ini kita mau kemana Ayako-chan?"

"Kita ke kuil ginza. Setelah itu aku akan mengajakmu ke Harajuku. Disana itu tempat anak muda berkreasi sesuka mereka. Bagaimana?"

Aku berbicara dengan mulut penuh ice cream. Kurasa disekitar mulutku belepotan karena ice cream.

Yoochun mengambil sesuatu dari kantung sweaternya. Sebuah sapu tangan dan dia mengelap mulutku yang belepotan ice cream dengan pelan. "Aku ikut saja deh." ucap Yoochun tersenyum.

"Ah... Terimakasih."

Yoochun memang pria baik. Setelah setengah hari ini berjalan dengannya, aku tau dia sangat baik. Dia selalu berusaha membuatku nyaman dan terkesan melindungiku.

***
Dari Ueno zoo, kuil ginza, sampai tempat belanja di Harajuku telah kami singgahi seharian tadi. Setiap kami pergi kesuatu tempat, orang-orang pasti memandang kearah kami dan berbisik. Setiap ada orang yang memperhatikan kami pasti Yoochun langsung mengajak pindah tempat. Yah, dia memang tampan, jadi orang-orang itu tentu tertarik padanya kan.

Hari mulai gelap. Kami bingung menentukan tempat mana yang akan kami datangi lagi.

"Ah Ayako-chan. Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi saat malam hari."

"Hah? Tempat apa itu?"



.To Be Continue.

Jumat, 11 Mei 2012

repost : Memulai Usaha Untuk Bangkit

Pernahkan anda melihat orang sukses selalu berikiran negatif, tidak percaya diri, pesimis dan selalu menyerah ? Jika anda pernah melihatnya maka saya akan tegas mengatakan anda telah berbohong !!.

Kenapa demikian ?

Pernah dengar hukum kekekalan energi ? bahwa energi tidak dapat dimusnahkan tetapi energi hanya bisa berubah bentuk dari bentuk yang satu ke bentuk lainnya. Dalam diri manusia ternyata terdapat pula energi yang maha dahsyat. Pancaran energi yang dihasilkan juga dapat mempengaruhi hidup seseorang. Bila kita selalu dikelilingi dengan pancaran energi positif bisa dipastikan kehidupan kita akan selalu berhasil dan sejahtera. Namun bila energi yang dipancarkan negatif, maka bersiap siaplah untuk selalu menyesal dan menderita.

Salah satu unsur pembentuk energi adalah otak kita. Apa yang kita pikirkan ternyata akan mempengaruhi pancaran energi tubuh kita. Bila kita selalu berfikir positif energi yang dipancarkan tentunya energi positif pula. optimis, percaya diri, ikhlas, pantang menyerah dan selalu berprasangka baik merupakan contoh dari pikiran yang akan membentuk energi positif dari tubuh kita. Bila energi ini selalu ada di dalam diri kita Insya Allah kesuksesan akan menjadi milik anda.

Kebalikannya bila pikiran anda selalu pesimis, tidak percaya diri, mudah  menyerah, minder, selalu berprasangka buruk pada orang lain maka bersiaplah untuk gagal. Pikiran pikiran buruk yang selalu kita pikirkan akan berdampak pada kinerja tubuh kita yang membuat hidup kita serba susah dan gundah gulana. Bila ini dibiarkan dapat dipastikan anda akan kecewa seumur hidup anda.

Ingatlah hidup ini hanya sekali dan sementara, bila kita isi dengan hal-hal positif maka kehidupan kita akan lebih berarti bagi kita. Tentunya energi positif yang kita pancarkan akan dikembalikan kembali oleh alam kepada diri kita dengan hasil yang positif pula.

Ingatlah bahwa semua orang sukses itu terlahir dari energi positif yang dipancarkan pada dirinya. Karena mereka selalu berfikir positif atas semua hal yang terjadi pada dirinya. Jadi bersiap untuk menjadi orang yang selalu memancarkan energi positif yang akan membawa kebaikan bagi kita dan orang lain.
Jadi Ingatlah tuk selalu melihat sisi baik dari semua hal.


Sumber : http://mulaibangkit.com/kumpulkan-energi-positif-dengan-berfikir-positif/

Getting Started Arduino

This section will presume you have a PC running Windows or a Mac running OSX (10.3.9 or later). If you use Linux as your Operating System, then refer to the Getting Started instructions on the Arduino website at http://www.arduino.cc/playground/Learning/Linux.